Kamis, 13 Oktober 2016

Telaah Pemikiran Ontologi Martin Heidegger



TELAAH  PEMIKIRAN ONTOLOGI MARTIN HEIDEGGER

Debri Koeswoyo
Jurusan Aqidah Filsafat, Fakultas Ushuluddin
Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau
E-mail:debrikoeswoyo46@gmail.com

Abstrak
            Perkembangan pemikiran filsafat abad-20 yang meninggalkan sisi-sisi postmodernitas,  mengantarkan kepada suatu aliran baru seperti fenomenologi (Merleau), eksistensialisme (Sartre), hermeneutika (Gadamer, Ricoeur), dan teori politik (Habermas). Kesemuanya tidak terlepas dari kontribusi pemikiran Martin Heidegger. Pemikiran ontologi Heidegger dalam Sein und Zeit mencerminkan pengalaman dasar manusia di era ini, yaitu: Angst (kecemasan), Sorge (kekhawatiran-kepedulian),dan Unheimlichkeit (kengerian).
Kata Kunci: Heidegger, Ontologi, Dasein

Abstract

              The development of philosophical thought of the 20th century that left-hand side of postmodernity, drove to a new stream as phenomenology (Merleau), existentialism (Sartre), hermeneutics (Gadamer, Ricoeur), and political theory (Habermas). All of which can not be separated from the contribution of the thought of Martin Heidegger. Thought ontology Heidegger in Sein und Zeit reflects the basic human experience in this era, namely: Angst (anxiety), Sorge (concern-concern), and Unheimlichkeit (horrors!).

Keywords: Heidegger, Ontology, Dasein








PENDAHULUAN
            Ontologi merupakan salah satu objek kajian filsafat yang utama untuk memahami berbagai sumber keilmuan baik di bidang filsafat itu sendiri, pengetahuan alam, sosial, dan lainnya. Pembelajaraan yang bertujuan untuk memahami bagaimana hakikat dari segala sesuatu yang ada, baik dari segi aspek fisik dan metafisik. Ontologi berbicara tentang aspek yang ada (being), kenyataan (reality), eksistensi (existence) dan perubahan (change).
            The Myth of the Cave paradigma awal yang dibangun Plato untuk memahami pemikiran ontologis dengan membuka perbedaan antara mereka yang berfilsafat dengan yang tidak, membedakan antara penampakan dan kenyataan, dan mencari asal dari semua yang ada ini (the nature reality).
            Ontologi tidak terlepas dari batas lingkup dan teori tentang realitas yang ada (being). Heidegger memberikan pemahaman yang ada ini untuk menjelaskan eksistensi dari manusia secara keseluruhan didalam bukunya Being and Time. Dalam pemikiran ontologi Heidegger ini pandangan-pandangan pokok pemikiran fenomenologi, hermeneutika akan sangat kental dan tidak ada celah yang memisahkan keduanya.

PEMBAHASAN
A.    Biografi Martin Heidegger
 Martin Heidegger lahir di Meßkirch, Jerman, 26 September 1889 – meninggal 26 Mei 1976 adalah seorang filsuf asal Jerman. Ia belajar di Universitas Freiburg di bawah Edmund Husserl, penggagas fenomenologi, dan kemudian menjadi profesor di sana pada tahun 1928. Ia memengaruhi banyak filsuf lainnya, dan murid-muridnya termasuk Hans-Georg Gadamer, Merleau, Jean-Paul Sartre, Jacques Derrida, Michel Foucault, dan Philippe Lacoue. Selain hubungannya dengan fenomenologi, Heidegger dianggap mempunyai pengaruh yang besar atau tidak dapat diabaikan terhadap eksistensialisme, dekonstruksi, hermeneutika dan pasca-modernisme.[1]
                Pada 1911, Heidegger mengalami krisis hidup dan drop out dari pendidikan imamat, dan delapan tahun kemudian, memutuskan hubungan dengan gereja Katolik. Sikap Heidegger ini oleh sebagian orang dipandang sebagai skandal. Kendati melawan “sistem agama Katolik”, Heidegger tetap membiarkan dirinya menerima bantuan dana dari gereja untuk studi, dan setelah selesai, ia berharap bisa mendapat posisi mengajar.[2]
            Dalam perjalanan karir intelektualnya Heidegger sering terlibat dengan berbagai aktivitas yang mencederai biografi filosof abad 20 ini. Keretakan hubungannya dengan gereja katholik, dukungan politisnya kepada NAZI dan hubungan asmara terlarang dengan muridnya Hannah Arendt.[3] Kehidupan Heidegger memasuki tahap bermasalah dan kontroversial dengan Hitler naik berkuasa. Pada bulan September 1930, Sosialis Jerman Partai Adolf Hitler Pekerja Nasional '(NSDAP) menjadi partai terbesar kedua di Jerman, dan pada tanggal 30 Januari, 1933, Hitler diangkat kanselir Jerman.[4] Pada tanggal 27 Mei 1933, Heidegger menyampaikan pidato Rectoral perdana pada "Sikap tegas dari Universitas Jerman." Naskah yang mendua dari pidato ini sering diartikan sebagai ekspresi dukungannya bagi rezim Hitler.[5]
B.     Pengertian Ontologi/ Metafisika Umum
Pembahasan tentang ontologi sebagi dasar ilmu berusaha untuk menjawab “apa” yang ada, menurut Aristoteles merupakan The First Philosophy dan merupakan ilmu mengenai esensi benda. Kata ontologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu On=being, dan Logos=logic. Jadi, ontologi adalah The Theory of Being Qua Being (teori tentang keberadaan sebagai keberadaan).[6]
Sedangkan Jujun S. Suriasamantri mengatakan bahwa ontologi membahas apa yang ingin kita ketahui, seberapa jauh kita ingin tahu, atau dengan perkataan lain suatu pengkajian mengenai yang “ada”.[7]
Jadi dapat disimpulkan bahwa:
1.    Menurut bahasa, ontologi berasal dari Bahasa Yunani, yaitu On/Ontos=ada, dan Logos=ilmu. Ontologi adalah ilmu tentang hakikat yang ada.
2.    Menurut istilah, ontologi adalah ilmu yang membahas tentang hakikat yang ada, yang merupakan Kenyataan yg asas, baik yang berbentuk jasmani / konkret, maupun rohani / abstrak.

C.     Ontologi Martin Heidegger/ Dasein
Analitik dari Dasein adalah ciri utama pemikiran Heidegger. Dasein menjadi penting karena struktur ontologis yang sulit untuk dipahami. Heidegger menyebut manusia dengan kata Dasein, yang berarti ada di sana (being-in-there). Manusia itu terlempar di sana, dan kedisanaannya itu hidup saling membentuk dengan dunia sehingga untuk memahami manusia, pemahaman akan konsep Aku itu harus disingkirkan dulu agar fenomena manusia benar-benar terlihat.[8]
Ontologi dalam pemikiran Heidegger tidak dimaksudkan untuk mempelajari Ada dalam arti metafisika tradisional. Heidegger ingin kembali pada Ada yang paling asal ketika Ada belum disalahpahami. Bagi Heidegger, Dasein sebagai “ada” yang faktis berarti ke-di-sana-an Dasein berada dalam temporalitas waktu tertentu. Jadi ontologi yang dimaksud Heidegger di sini adalah sebuah penyelidikan mengenai kehidupan faktis Dasein sebagai “ada” partikular dalam temporalitasnya.[9]

Heidegger mencoba mempertanyakan masalah mendasar yaitu ihwal masalah
“mengada” (Dasein). Siapa saya?: dari mana (asal) saya dan hendak akan kemana?; hidup saya untuk apa?”[10]

Dengan kata lain, hal mengada kita sendiri (Dasein) selalu menjadi problema atau pertanyaan yang tidak pernah usai. Ini juga mengisaratkan bahwa berada dalam dunia bagi manusia tidak sama dengan keberadaan korek api didalam kotaknya. Dengan kata lain manusia sebagai Dasein berbeda dengan “mengada-ada” lain seperti hewan, meja, mobil, dan lain sebagainya. Sebagai daein yang berbeda dengan “mengada-ada” yang lain itu, manusia mempunyai kemampuan unik atau khas yakni menyadari (mempersoalkan) makna Adanya. Artinya, Dasein bersifat terbuka sekaligus memberikan pemaknaan Ada (dan hubungan Dasein dan Ada inilah yang disebut eksistensi).[11]
Heidegger mengemukakan analisis transendensinya dengan bertolak dari fenomena pemahaman atas dasein ( pemahaman ontologis), dengan pemahaman atas pengada ( pemahaman ontis). Jika saya memahami bahwasannya benda yang saya pegang adalah buku maka itu berarti saya memahami buku secara ontis dan ontologis. Pemahaman secara ontis adalah pemahaman terhadap cirri-ciri fisik atau cirri-ciri dari ukuran dan keadaan buku. Sedangkan pemahaman akan ontology dari buku tersebut ialah keberfungsian buku dalam konteks referensial; yakni dalam hubunganya dengan pensil, pena, meja.[12]
            Dasein dan dunia terkait internal. Heidegger mengatakan bahwa fakta dunia ini tidak diciptakan oleh Dasein dan bukan hanya dunia faktual yang ada independen dari kita, tapi kita juga berkontribusi terhadap penciptaan, hubungan Dasein dengan itu signifikan. Ini adalah dunia, yang dibuat oleh orang lain juga. orang lain memiliki peran dalam memutuskan struktur dunia. Oleh karena itu orang lain memainkan peran yang sangat penting dalam menentukan apa yang saya. Dasein mendiami dunia bersama dengan makhluk lain seperti  dirinya. Heidegger mengatakan bahwa -Setiap orang adalah lainnya, dan tidak ada yang sendiri.[13]
            Dasein adalah keberadaan manusia yang terlempar didalam dunia, begitu saja tanpa tahu dari mana dan mau kemana. Heidegger menyebut ini dengan faktisitas. Kita tidak pernah ditanya mau atau tidak hidup didunia ini. Kita ada begitu saja, kita berada “disana”didalam dunia.[14]
            Dasein memiliki hubungan dengan sesuatu yang disebut das man. Das man yaitu manusia yang berada dalam keadaan inautentik. Manusia enggan menerima Adanya sendiri melainkan menerima dan meguasakannya kepada orang lain. Dalam kondisi seperti itu, manusia mengizinkan mereka untuk membentuk dan megarahkan eksistensinya. Hal ini dikarenakan jika manusia menerima Adanya sendiri maka segala kegagalan akan selalu dirinya sendiri yang mempertanggung jawabkan bukan orang lain.[15]

ANALISA DAN KESIMPULAN   
                Fenomena pemahaman Ada dalam pemikiran Heidegger dicirikan setidaknya oleh tiga hal: Ada terpahami secara pra-ontologis, bersifat temporal (mewaktu), dan ditandai oleh keterlibatan dengan dunia. Suatu entitas menurut Heidegger tidak terpahami dengan cara meng-Ada nya (its mode of Being) semata-mata berdasarkan konsep-konsep seperti substansi, esensi, kausalitas, posibilitas, dan seterusnya, melainkan berdasarkan totalitas referensial entitas tersebut dalam merealisasikan dorongan manusia (dasein) untuk meng-Ada.
            Secara konseptual, Heidegger menyejajarkan pemahaman Ada dengan skema transcendental (atau pemahaman Ada) karena pada titik itulah transendensi terbentuk. Skema transcendental bagi Heidegger berupa fakta terjelas dalam kehidupan manusia (dasein) bukan sebagai fakta rasio yang ditafsirkan.
            Pemahaman Ada bagi Heidegger adalah fenomena yang kompleks dari sekedar pembentukan konsep-konsep. Seorang Jawa yang memahami dirinya sebagai Jawa harus mengandaikan pemahaman akan keterkaitan dengan seluruh modus Ada, seperti entitas (gesture,busana,bahasa,kesenian dan sebagainya) yang semua itu terungkap dalam rangka realisasi diri seorang Jawa (meng-Ada sebagai Jawa).
            Kecenderungan sikap religious pada manusia adalah sesuatu yang tersembunyi didalam penampakan; sesuatu yang sejati yang menjadi dasar terwujudnya kenyataan, sesuatu yang diharapkan, tujuan dari kehidupan dan kematian. Suatu perspektif Heidegger dimana kebutuhan ialah sesuatu yang bersifat temporal transendensi, fenomena yang ditandai dengan dorongan untuk meng-Ada. Keadaan temporal melahirkan sesuatu seperti Angst (kecemasan), Sorge (kekhawatiran-kepedulian),dan Unheimlichkeit (kengerian). Dengan dasar temporal ini membentuk kecenderungan religious sehingga agama dapat diterima.
                Dorongan untuk meng-Ada atau pemahaman Ada dalam pandangan Heidegger ialah fenomena transcendental. Apakah ini menjadi titik tolak konsep transedensi Heidegger untuk memahami pemahaman Ada itu?
            Dalam ajaran Islam kecenderungan beriman menemukan entitas Allah sebagai “yang tidak dipahami” sebenarnya dipahami dalam tatanan harmonis alam semesta, penciptaan manusia yang meliputi wujud dan daya hidupnya. Kecenderungan religius merupakan suatu suasana yang diliputi oleh ketidakhadiran dan ketidakhadiran itu ialah tanda-tanda kehadiran-Nya.


[1] Dikutip pada laman https://id.wikipedia.org/wiki/Martin-Heidegger pada tanggal 14 September 2016
[2] F. Budi, Hardiman, Heidegger dan Mistik Keseharian: Suatu Pengantar Menuju Sein und Zeit, (Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2003), h. 9
[3] Zaprulkhan, Filsafat Umum Sebuah Pendekatan Tematik,(Jakarta: Rajawali Press, 2013), h. 144
[4] W. J. Korab-Karpowicz, Journal Anglo-American University of Prague, dikutip pada laman http://www. iep.utm.edu pada tanggal 14 September 2016
[5] Ibid
[6] Amsal Bakhtiar, Filsafat Ilmu, (Jakarta: Rajawali Press, 2007), h. 132
[7] Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2003), h. 5
[8] Dikutip pada laman http://id.wikipedia.fenomenologi.org pada tanggal 14 September 2016
[9] F. Budi Hardiman, Hermeneutika Faktisitas Martin Heidegger, dalam Kelas Filsafat Komunitas Salihara 18 Febuary 2014 dilihat pada laman http://www.youtube.com
[10] Akhyar Yusuf Lubis, Filsafat Ilmu; klasik hingga kontemporer, (Jakarta: Rajawali Press, 2015) ,h.213
[11] Ibid
[12] Martin Heidegger, Basic Problems of Phenomenology, pen. Alfred Hofstadter (Bloomington: Indiana University Press, 1982), h. xvii  dikutip dalam skripsi Adry Nugraha Imajinasi dan Trasendensi: Pembacaan Destruktif Martin Heidegger Atas Doktin Skematisme Kant, (Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2008), h. 28 pada laman  http://www.repository.uin.jakarta.id
[13] Martin Heidegger, Being and Time, Terj. John Macquarrie dan Edward Robinson, (San Francisco:  Harper, 1962), h. 165 dikutip pada tulisan Dr. Sreekumar Nellickapilly dalam Aspects of Western Philosopy IIT Madras
[14] F. Budi Hardiman, Hermeneutika Faktisitas Martin Heidegger, dalam Kelas Filsafat Komunitas Salihara 18 Febuary 2014 dilihat pada laman http://www.youtube.com
[15] Zaprulkhan, Filsafat Umum Sebuah Pendekatan Tematik,(Jakarta: Rajawali Press, 2013), h. 150

Kamis, 26 Mei 2016

Manusia dalam Pandangan Filsafat Fenomenologi



MANUSIA DALAM PANDANGAN FENOMENOLOGI
 Oleh
Debri Koeswoyo
A. PENDAHULUAN
Fenomenologi adalah gerakan filsafat yang dipelopori oleh Edmund Husserl (1859-1938). Salah satu arus pemikiran yang paling berpengaruh pada abad ke-20. Husserl membedakan antara dunia yang dikenal dalam sains dan dunia di mana kita hidup. Selanjutnya ia juga mendiskusikan tentang kesadaran dan perhatian terhadap dunia di mana kita hidup. Kita dapat menganggap sepi objek apapun tetapi kita tidak dapat menganggap sepi kesadaran kita. Eksistensi kesadaran adalah satu-satunya benda yang tidak dapat dianggap sepi. Pengkajian tentang dunia yang kita hayati serta pengalaman kita yang langsung tentang dunia tersebut adalah pusat perhatian fenomenologi.[1]

B. PEMBAHASAN
            Kata fenomenologi berasal dari bahasa Yunani, phainomenon, dari phainesthai / phainomai / phainein yang artinya menampakkan, memperlihatkan.[2] Dalam bahasa Indonesia biasa dipakai istilah gejala. Yaitu suatu hal yang tidak nyata dan semu, kebalikan kenyataan, juga dapat diartikan sebagai ungkapan kejadian yang dapat diamati lewat indera. Dan yang lebih penting dalam filsafat fenomenologi sebagai sumber berpikir yang kritis.[3] Fenomenologi juga berarti ilmu pengetahuan (logos) tentang apa yang tampak (phainomenon). Jadi, fenomenologi itu mempelajari apa yang tampak atau apa yang menampakkan diri atau fenomena.[4]
            Sedangkan fenomenologi secara terminologi dapat didefinisikan dengan suatu disiplin ilmu yang mencoba mengkaji realitas yang memiliki objek dunia atau benda, dimana tidak ada hal tanpa hal lain. Benda biasa dilihat sebagai suatu objek yang dapat dilihat, dipegang, diraba, atau didengar. Identik dengan dirinya sendiri dan berada dalam ruang yang kemudian muncul sebagai hal yang terjadi dalam suatu waktu.[5]
            Kant membedakan antara phenomenon dan noumenon, yang pertama sebagai objek yang kita alami dan yang kedua kejadian sebagaimana hal itu terjadi. Menurut Kant, manusia hanya dapat mengenal fenomena-fenomena yang nampak dalam kesadaraan, bukan noumena yaitu yaitu realitas di luar (berupa benda-benda atau atau nampak tetap menjadi objek kesadaran kita) yang kita kenal. Melihat warna biru , misalnya tidak lain adalah hasil cerapan indrawi yang membentuk pengalaman batin yang diakibatkan oleh sesuatu dari luar. Warna biru itu sendiri merupakan realitas yang tidak dikenal pada diri sendiri (in se).Ini berarti kesadaran kita tertutup dan terisolasi dari realitas. Demikianlah, Kant sebenarnya mengakui adanya realitas eksernal yang berada diluar diri manusia, yaitu sebuah realitas itu ia sebut das Ding an sich (objek pada dirinya sendiri) atau noumena, tetapi menurutnya, manusia tidak ada sarana ilmiah untuk mengetahuinya.
            Hegel memandang phenomena sebagai tahapan untuk sampai ke noumenon.[6] Problema untuk mengompromikan realitas dengan pikiran tentang realitas merupakan problema yang sama tuanya dengan filsafat sendiri. Problema itu menjadi lebih sulit karena kita tak dapat mengetahui realitas tanpa hubungan dengan kesadaran kita, dan kita tak dapat mengetahui kesadaran tanpa hubungan dengan realitas.[7]

a. Fenomenologi Edmund Husserl
Dalam pemikiran Husserl, konsep fenomenologi itu berpusat pada persoalan tentang kebenaran. Husserl yakin bahwa ada kebenaran bagi semua dan manusia dapat mencapai kebenaran itu.[8] Bagi Husserl metode yang benar-benar ilmiah adalah metode yang sanggup membuat fenomena menampakkan diri sesuai dengan realitas yang sesungguhnya tanpa memanipulasinya. Ada suatu slogan yang terkenal di kalangan penganut fenomenologi, yaitu: zu den sachen selbst (terarah kepada benda itu sendiri). Dalam keterarahan benda itu, sesungguhnya benda itu sendirilah yang dibiarkan untuk mengungkapkan hakikat dirinya sendiri. Berangkat dari proses pemikiran yang demikian, maka lahirlah metode fenomenologis.[9]
            Husserl menyimpulkan bahwa kesadaran harus menjadi dasar filsafat. Alasannya ialah bahwa hanya kesadaran yang diberikan secara langsung kepada saya sebagai subjek, seperti akan kita lihat lagi.[10] “Fenomen” merupakan realitas sendiri yang tampak, tidak ada selubung yang memisahkan realitas dari kita., realitas itu sendiri tampak bagi kita. Kesadaran menurut kodratnya mengarah pada realitas. Kesadaran selalu berarti kesadaran akan sesuatu. Kesadaran menurut kodratnya bersifat intensionalitas. (intensionalitas merupakan unsur hakiki kesadaran). Dan justru karena kesadaran ditandai oleh intensionalitas, fenomena harus dimengerti sebagai sesuatu hal yang menampakkan diri.[11]

C. MANUSIA DALAM PANDANGAN FENOMENOLOGI
1.    Pandangan Heidegger
Menurut Heidegger, manusia itu terbuka bagi dunianya dan sesamanya. Kemampuan seseorang untuk bereksistensi dengan hal-hal yang ada di luar dirinya karena memiliki kemampuan seperti kepekaan, pengertian, pemahaman, perkataan atau pembicaraan. Bagi Heidegger untuk mencapai manusia utuh maka manusia harus merealisasikan segala potensinya meski dalam kenyataannya seseorang itu tidak mampu merealisasikannya. Ia tetap sekuat tenaga tidak pantang menyerah dan selalu bertanggungjawab atas potensi yang  belum teraktualisasikan.[12]
Dalam persfektif yang lain mengenai sesosok Heidegger menjadi salah satu filsafat yang fenomenal yaitu bahwa ia mengemukakan tentang konsep suasana hati (mood). Seperti yang kita ketahui bahwa dengan suasana hatilah kita diatur oleh dunia kita, bukan dalam pendirian pengetahuan observasional yang berjarak. Biasanya, dengan posisi kita yang sedang bersahabat dengan suasana hati, maka kita akan bisa mengenali diri kita yang sesungguhnya. Karena suasana hati bisa menjadi tolak ukur untuk mengetahui hakikat diri dengan banyaknya pertanyaan yang muncul seperti pencarian jati diri siapa kita sesungguhnya, apa kemampuan kita, dan apa kekurangan atau kelebihan yang kita miliki, bagaimanakah kehidupan kita yang selanjutnya dan pertanyaan-pertanyaan lainnya. Konsep inilah yang menguatkan pendapat banyak orang mengenai sesosok orang yang mampu melihat noumena dan phenoumena.[13]
Pendekatan fenomenologi berakar pada filosofi dan psikologi, dan berfokus pada pengalaman hidup manusia (sosiologi). Pendekatan fenomenologi hampir serupa dengan pendekatan hermeneutics yang menggunakan pengalaman hidup sebagai alat untuk memahami secara lebih baik tentang sosial budaya, politik atau konteks sejarah dimana pengalaman itu terjadi.
2. Pandangan Edmund Husserl
Edmund Husserl memahami fenomenologi sebagai suatu analisis deskriptif serta introspektif mengenai kedalaman dari semua bentuk kesadaran dan pengalaman-pengalaman langsung manusia yang meliputi; religius, moral, estetis, konseptual, serta indrawi. Perhatian filsafat, menurutnya, hendaknya difokuskan pada penyelidikan tentang Labenswelt (dunia kehidupan) atau Erlebnisse (kehidupan subjektif dan batiniah). Penyelidikan ini hendaknya menekankan watak intensional kesadaran, dan tanpa mengandaikan praduga-praduga konseptual dari ilmu-ilmu empiris.[14]
Berikut adalah komponen konseptual dalam fenomenologi transendental Husserl:[15]

a.       Kesengajaan (Intentionality)
Kesengajaan (intentionality) adalah orientasi pikiran terhadap suatu objek (sesuatu) yang menurut Husserl, objek atau sesuatu tersebut bisa nyata atau tidak nyata.Objek nyata seperti sebongkah batu yang dibentuk dengan tujuan tertentu maka jadilah batu permata. Objek yang tidak nyata misalnya konsep tentang tanggung jawab, kesabaran, dan konsep lain yang abstrak atau tidak real. Husserl menyatakan bahwa kesengajaan sangat terkait dengan kesadaran atau pengalaman seseorang dimana kesengajaan atau pengalaman tersebut dipengaruhi oleh faktor kesenangan (minat), penilaian awal, dan harapan terhadap objek. Misalnya minat terhadap dunia pendidikan akan menentukan kesengajaan kuliah di bidang pendidikan.
b.      Noema dan Noesis
Noema atau noesis merupakan turunan dari kesengajaan atau intentionalityatau  maksud memahami sesuatu, dimana setiap pengalaman individu memiliki sisi obyektif dan subyektif. Noema adalah sisi obyektif dari fenomena, artinya sesuatu yang bisa dilihat, didengar, dirasakan, dipikirkan, atau sekalipun sesuatu yang masih akan dipikirkan (ide). Sedangkan sisi subyektif noesis adalah tindakan yang dimaksud (intended act) seperti merasa, mendengar, memikirkan, dan menilai ide.


c.       Intuisi
Intuisi yakni kemampuan membedakan “yang murni” dan yang diperhatikan dari the light of reason alone (semata-mata alasannya).Intuisi lah yang membimbing manusia mendapatkan pengetahuan. Bagi Husserl, intuisi yang menghubungkan noema dan noesis. Inilah sebabnya fenomenologi Husserl dinamakan fenomenologi transendental, karena terjadi dalam diri individu secara mental (transenden).
d.      Intersubjektivitas
Bahwa makna intersubjektif ini berawal dari konsep ‘sosial’ dan konsep ‘tindakan’.Konsep sosial didefinisikan sebagai hubungan antara dua atau lebih orang dan konsep tindakan didefinisikan sebagai perilaku yang membentuk makna subjektif. Akan tetapi, makna subjektif tersebut bukan berada di dunia privat individu melainkan dimaknai secara sama dan bersama dengan individu lain. Oleh karenanya, sebuah makna subjektif dikatakan intersubjektif karena memiliki aspek kesamaan dan kebersamaan (common and shared).
D. ANALISA
Asumsi dasar dari fenomenologi adalah bahwa manusia dalam berilmu pengetahuan tidak lepas dari pandangan moralnya, baik pada taraf mengamati, menghimpun data, menganalisis, ataupun dalam membuat kesimpulan. Fenomenolgi yang selalu bersandar kepada kesadaran manusia, jika dilihat lebih jauh dalam kehidupan sehari-hari atau ditipifikasikan, maka bahasa menjadi medium sentral untuk tranformasi tipifikatif, oleh karena ada makna yang dapat ditemukan dalam tipifikasi (pergaulan sehar-hari).[16] Keadaan ini memberikan orientasi metodologi bagi fenomenologi tentang kehidupan sosial dengan memberikan perhatian lebih kepada relasi antara bahasa yang digunakan dengan obyek pengalaman. Dengan demikian maka fenomenologi sosial dilandaskan atas ajaran bahwa interaksi sosial adalah rancang bangun sepanjang di dalamnya memuat makna yang dapat diungkap. 
E. KESIMPULAN
Pada dasarnya fenomenologi adalah suatu tradisi pengkajian yang digunakan untuk mengeksplorasi pengalaman manusia.Seperti yang dikemukakan oleh Littlejohn bahwa fenomenologi adalah suatu tradisi untuk mengeksplorasi pengalaman manusia.Dalam konteks ini ada asumsi bahwa manusia aktif memahami dunia disekelilingnya sebagai sebuah pengalaman hidupnya dan aktif menginterpretasikan pengalaman tersebut. Asumsi pokok fenomenologi adalah manusia secara aktif menginterpretasikan pengalamannya dengan memberikan makna atas sesuatu yang dialaminya. Oleh karena itu interpretasi merupakan proses aktif untuk memberikan makna atas sesuatu yang dialami manusia. Dengan kata lain pemahaman adalah suatu tindakan kreatif, yakni tindakan menuju pemaknaan.
Manusia memiliki paradigma tersendiri dalam memaknai sebuah realitas. Pengertian paradigma adalah suatu cara pandang untuk memahami kompleksitas dunia nyata. Paradigma tertanam kuat dalam sosialisasi para penganut dan praktisinya.Paradigma menunjukkan sesuatu yang penting, absah, dan masuk akal. Paradigma juga bersifat normatif, menunjukkan kepada praktisinya apa yang harus dilakukan tanpa perlu melakukan pertimbangan eksistensial atau epistimologis yang panjang.



[1] Harold Titus, dkk, Living Issues in Philosophy (Persoalan-Persoalan Filsafat), alih bahasa Prof. Dr. H.M. Rasjidi, (Jakarta: PT. Bulan Bintang, 1984), hlm. 400
[2]  Save M. Dagun, Filsafat Eksistensialisme, (Jakarta: Rineka Cipta, 1990), Cet. 1, hlm. 37
[3]  Asmoro Achmadi, Filsafat Umum, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1994), hlm. 122
[4]  K. Bertens, Filsafat Barat Abad XX Jerman, (Jakarta: PT. Gramedia, 1981), hlm. 98.
[5] M. A. W. Brouwer, Alam Manusia dalam Fenomenologi, (Jakarta: Kanisius, 1995), hlm. 6
[6]  Dikutip pada laman http://yoyoksiemo.blogspot.com pada tanggal 05 Mei 2016
[7] Saidul Amin, Filsafat Barat Abad 21,( Pekanbaru: Pusaka Riau, 2012), hlm. 69
[8]  Dikutip pada laman http://yoyoksiemo.blogspot.com pada tanggal 05 Mei 2016
[9]  Dikutip pada laman http://id.wikipedia.org pada tanggal 05 Mei 2016
[10]  K. Bertens, Filsafat Barat Abad XX Jerman......................................., hlm. 99 – 100
[11]  Ibid, h. 101
[12]  Syamsul Arifin, Fenomenologi Agama, ( Pasuruan: PT.Garoeda Buana Indah, 1996 ), hlm. 8 didownload pada laman https://ebooks-online.com pada tanggal 07 Mei 2016
[13]  Ibid
[14] Zainal Abidin, Filsafat Manusia (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2003), h. 149
[15] Ibid.,h. 147
[16] Dikutip pada laman http://mudjiarahardjo.com pada tanggal  07 Mei 2016

Diabolisme Salman Rushdie dan Ahok

ANTARA SALMAN RUSHDIE DAN AHOK Oleh: Dr. Adian Husaini Tahun 1988, dunia Islam digegerkan oleh seorang bernama Salman Rushdie. Kisahnya ...